Pages

Labels

Tampilkan postingan dengan label opini. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label opini. Tampilkan semua postingan

Senin, 09 April 2012

Konsep Pergerakan Mahasiswa


SESUAI dengan Tri harma Perguruan Tinggi, kita dapat menelaah kembali makna pergerakan mahasiswa itu sendiri. Tri Dharma yang berisi pendidikan, penelitian, dan pengabdian merupakan dasar dibentuknya sistem perguruan tinggi. Meskipun  implementasinya sulit, konsep tersebut dapat digunakan sebagai acuan utama untuk melihat kembali maksud dan tujuan mahasiswa.

Konsep pergerakan mahasiswa seringkali disesuaikan dengan konsep pengabdian. Bentuk ini memang lebih mudah direfleksikan. Namun jika kita melihat secara holistik, keadaan mahasiswa dan keadaan sosial yang berubah seharusnya menjadi alasan juga untuk menyesuaikan pemahaman atas kondisi tersebut. Pemahaman mengenai pergerakan juga seharusnya diperluas sesuai dengan keragaman orientasi masing-masing mahasiswa.

Konsep pengabdian kepada masyarakat merupakan wujud konkret yang pernah dianggap sebagai jalan terbaik untuk mewujudkan tindakan. Pergerakan mahasiswa tidak harus mengacu pada konsep pengabdian saja, karena ketiga nilai Tri Dharma Perguruan Tinggi bukanlah satuan yang terpisah namun saling terintegrasi. Dengan demikian dapat dikatakan untuk mencapai sebuah pengabdian, kita juga harus berbekal pendidikan dan penelitian yang memadai. Mungkin, dalam konsep pengabdian yang diartikan terpisah, mahasiswa lebih memfokuskan kepada isu-isu sosial politik yang menjadi fenomena masyarakat.

Pemahaman ini juga bukan hal yang salah. Akan tetapi, pemahaman konsep menyeluruh mengenai pergerakan seharusnya diperluas dengan pemahaman yang lebih mutakhir berdasarkan Tri Dharma Perguruan Tinggi. Tidak dapat dimungkiri, pendidikan yang serius dan berkualitas juga merupakan bentuk pergerakan mahasiswa dalam memberantas kebodohan dirinya.

Sebelum mengabdi, proses pencerdasan diri sangatlah penting bagi mahasiswa itu sendiri. Pergerakan di dalam konsep pendidikan ini adalah pergerakan dasar yang bermula dari dalam mahasiswa yang nantinya akan berdampak kepada konsep pengabdian yang lebih baik. Selanjutnya adalah konsep penelitian sebagai bentuk pengembangan dari pendidikan yang berkualitas.

Hal ini berguna dalam menemukan solusi praktis yang dapat diimplementasikan ke dalam konsep pengabdian. Pergerakan dalam konsep penelitain inilah fungsi mahasiswa sebagai agen yang tidak hanya peduli dengan masyarakat dan menyampaikan aspirasi masyarakat. Meskipun terkadang kekuatan mahasiswa masih labil, dengan integrasi ketiga konsep Tri Dharma Perguruan Tinggi tersebut akan tercipta pergerakan yang di dalamnya terdapat kecerdasan, solusi, penghimpunan kekuatan, dan aksi nyata.

Pergerakan secara revolusioner akan muncul saat mahasiswa memiliki pergerakan dalam masing-masing ketiga konsep Tri Dharma Perguruan Tinggi tersebut. Momentum kekuatan mahasiswa akan terlihat saat kekuatan pergerakan mahasiswa dapat berpengaruh besar terhadap masyarakat dalam kondisi sosial tertentu. Jangan bertanya mahasiswa mundur atau maju, karena setiap era kehidupan memiliki bentuk perjuangannya masing-masing. Hidup mahasiswa!

Dani Satria
Mahasiswa Departemen Kriminologi
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP)
Universitas Indonesia (UI)

Selasa, 27 Maret 2012

Kemana Nyali Presiden Kita?


“Berbadan besar tapi nyali ciut“

Tidak sedikit orang yang melontarkan kesan seperti di atas ketika penilaian terhadap Mr. President SBY menjadi buah bibir dalam perbincangan politik dan kenegaraan. Hal ini sangat beralasan dan secara empiris dapat dibuktikan bahkan sejumlah pemerintah dari kalangan elit politik sendiri menyatakan demikian. salah satunya mengenai tanggapan yang datang dari Wakil Ketua Komisi III DPR, Nasir Djamil, dalam keterangan persnya kepada, Sabtu (24/3/2012). Beliau sempat mengatakan, “Pengamanan oleh TNI ini menunjukkan bahwa Presiden SBY memang penakut, hal ini sesuai dengan keluhan yang dilontarkan Presiden beberapa hari yang lalu.” ujarnya.

Hari selasa pada tanggal 27 maret ini, sebagaimana yang diberitakan bahwa aksi demonstrasi besar-besaran yang diadakan oleh berbagai elemen kemahasiswaan dan elemen kemasyarakatan di Jakarta dan di berbagai kota-kota besar lainnya, juga merupakan aksi dalam mempertanyakan Kemana Nyali Mr. President SBY. Secara pribadi, saya sangat merasakan kesadaran dan antusias para aktivis dan masyarakat dalam bingkai demonstrasi hari ini. Sebuah kesadaran untuk terus bergerak menuntut keadilan serta mempertanyakan kebijaksanaan yang mengaku sebagai wakil rakyat tersebut.

Mari kita mencari, menulusuri, dan mempertanyakan nyali dan keberanian Mr. President kita. Ataukah mungkin kita tak akan menemukan “nyali” tersebut karena telah tertutup oleh semak-semak kemunafikan? Saya rasa sebagai agent of change yang berjuang untuk kesejatraan bangsa dan masyarakat kita tidak menemukan terminologi “Pesimis” dalam kamus idealisme kita. Teruslah bergerak dan mempertanyakan hal tersebut karena kita bukanlah mayat yang berjalan.

Ada satu sikap Mr. President kita yang di mana sikap atau pilihannya tersebut, menurut saya (Maaf) seperti “Kentut yang redam tak terdengar” tapi baunya menyebar ke mana-mana. Apa itu? Saya rasa kita telah mengetahuinya bersama yakni, Kaburnya Mr. President ke Cina-Korsel menjelang keputusan kenaikan BBM. Bukankah ini lucu dan tercium kemunafikannya bagai “Kentut redam” tadi. Bukankah seudah semestinya, sebagai kepala negara lebih memilih untuk tampil di garda depan dalam menyikapi problematika kenegaraan, khususnya mengenai kenaikan BBM. Saya cukup yakin bahwa SBY telah mendapatkan informasi dan data-data intilejen mengenai akan diadakannya aksi demonstrasi besar-besaran, oleh karena itu SBY memutuskan untuk “ngumpet” di ketiak Cina dan Korsel. Kemana Nyali Presiden kita?

Ketika negeri ini tengah diremukkan oleh karut marutnya sikap pemerintah kita yang menebar “kentut” kemunafikan maka, REVOLUSI hanyalah BOM WAKTU yang siap MELEDAK kalau telah tiba saatnya.